Ritual Keboan Aliyan, Tradisi Agraris Desa Banyuwangi Tiap Bulan Suro

Ritual Keboan Aliyan, Tradisi Agraris Desa Banyuwangi Tiap Bulan Suro – Sunadi (36) matanya membelalak dengan mulut penuh rumput. Ke dua tangannya mengepal di muka dadanya. Busananya berlumuran lumpur yg tetap basah. Sunadi bersama dengan beberapa puluh orang berjoget berkeliling-keliling Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, ikuti nada tabuhan yg dibunyikan orang.

Kala melalui kubangan buatan di pertigaan desa, Sunadi serta beberapa puluh orang yg bertingkah seperti kerbau langsung lari serta berkubang didalam lumpur. Sebagian orang sebagai keluarga Sunadi, kelihatan turut temani dengan membawa ember berisi air bersih untuk menyiram kepala Sunadi serta bersihkan sisi mata, hidung serta telinga dari lumpur.

Beberapa puluh orang itu kesurupan serta berubah menjadi sisi dari ritual Keboan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Minggu (16/9/2018). Acara yg diadakan tiap-tiap bulan Suro itu menjadi sisi dari bersih desa biar terlepas dari marabahaya.

Di desa ini penduduk punyai kebiasaan Keboan, suatu ritual rutinitas permintaan terhadap Tuhan biar sawah orang arsip serta panen berjalan sukses. Kebiasaan ini lantas menarik minat banyak wisatawan.

Ritual keboan ini diawali terlebih dulu dengan kenduri desa yg diadakan satu hari awal kalinya. Penduduk bergotong royong siapkan kebiasaan ini. Dimulai dengan pundak membahu siapkan jenis keperluan untuk ritual, sampai bangun gapura dari janur yg digantungi hasil bumi di selama jalan desa menjadi perlambang kesuburan serta kesejahteraan.

Besok paginya, penduduk menyelenggarakan selamatan di empat seluruh desa (ider bumi). Berbarengan, beberapa petani yg yang udah kerasukan siap melakukan ritual Keboan. Mereka berjalan seperti kerbau yg tengah bajak sawah. Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur, serta bergulung-gulung di selama jalan yg dilalui. Kala berjalan lantas di bahu mereka terpasang perlengkapan bajak.

Banyak petani sebagai ” kerbau ” terus berkeliling-keliling desa ikuti empat seluruh mata angin. Kala berkeliling-keliling desa ini dia, banyak ” kerbau ” itu mengerjakan ritual seperti siklus bercocok tanam, dimulai dengan bajak sawah, mengairi, sampai menabur benih padi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menuturkan, kebiasaan Keboan Aliyan adalah salah satunya kekayaan budaya asli penduduk lokal. Pemerintah daerah membawa kebiasaan ini menjadi sisi dari Banyuwangi Festival menjadi bentuk animo pada penduduk yg selalu mengontrol warisan banyak leluhur.

” Banyuwangi bisa maju, namun kebiasaan serta budaya yg ada di dalam orang akan tidak kita tinggalkan. Kebiasaan ini tidak semata-mata suatu ritual teratur namun sebagai salah satunya muka Banyuwangi yg ingin kita tunjukkan, ialah semangat guyub serta gotong royong, ” kata Bupati Anas kala menghadiri Keboan Aliyan.

Beberapa ratus pengunjung serta wisatawan yg ikuti ritual lantas terlihat sangatlah ketertarikan.