Perintahkan Membunuh 5 Orang, Bos Gangster Belanda Dibui Seumur Hidup

Perintahkan Membunuh 5 Orang, Bos Gangster Belanda Dibui Seumur Hidup – Bos gangster terpopuler di Belanda divonis penjara seumur hidup atas tuduhan memerintah pembunuhan pada lima orang. Satu diantara yang dibunuh ialah rekan lebih baiknya sendiri yang sudah pernah jadi kaki tangan dalam penculikan taipan bir terpenting, Heineken, tahun 1980-an yang lalu.

Seperti dikutip AFP, Jumat (5/7/2019), bos gangster bernama Willem Holleeder (61) ini dikatakan bersalah oleh pengadilan Belanda, sesudah beberapa saudara perempuannya memberi kesaksian memberatkan dalam persidangan. Holleeder dipanggil jadi ‘The Nose’ mengacu pada feature mukanya yang paling diketahui publik.

“Hidupnya bergerak dari jelek jadi lebih jelek, dipastikan oleh keserakahan, nafsu untuk kekuasaan serta kekerasan,” ucap panel hakim Belanda waktu membacakan keputusan di pengadilan ‘De Bunker’ yang mempunyai keamanan super ketat di Amsterdam.

Nama Holleeder muncul sesudah penculikan bos perusahaan bir terkenal di Belanda, Freddy Heineken, tahun 1983 yang lalu. Jadi bos gangster, Holleeder berani tampil di tv ditempat serta bahkan juga dipanggil ‘huggable criminal’ sebab berpose selfie dengan fansnya dalam suatu tempat minum bir di Amsterdam.

Pencitraan yang dipertunjukkan Holleeder di muka publik, bertentangan dengan kekejamannya yang tega menghancurkan siapapun yang meneror tempatnya jadi ‘raja dunia penjahat Amsterdam’. Ia bahkan juga tegas mengenyahkan anggota keluarganya sendiri.

Dalam adegan yang memperingatkan pada film Hollywood ‘Godfather’ serta ‘Goodfellas’, Holleeder memerintah pembunuhan Cor van Hout yang disebut bekas rekan lebih baiknya serta mitranya dalam masalah penculikan Heineken. Van Hout sebetulnya adalah saudara ipar Holleeder sebab ia punyai anak dengan saudara wanita Holleeder. Namun saja, Van Hout ditembak mati di luar satu restoran di Amsterdam tahun 2003 kemarin.

Satu diantara saudara wanita Holleeder, Astrid, menulis buku laku berjudul ‘Judas’ yang membahas Holleeder. Dalam buku itu, Astrid mengulas masalah kemarahan yang dipunyai Holleeder serta tingkah laku sadis dan ingin mengatur yang makin lama makin kronis. Holleeder didakwa memerintah pembunuhan pada dua saudara perempuannya sesudah mereka memberi kesaksian memberatkan. Gagasan pembunuhan itu dihentikan sesudah satu satu rekanan terpidana memberi tahu polisi.

Dengan keseluruhan, Holleeder yang ditahan semenjak tahun 2014 ini, dikatakan bersalah atas lima tuduhan pembunuhan serta satu tuduhan pembunuhan tidak disengaja.

Kondisi waktu sidang keputusan bos gangster Belanda, Willem Holleeder, di AmsterdamSituasi waktu sidang keputusan bos gangster Belanda, Willem Holleeder, di Amsterdam Photo: Koen van Weel/ANP/AFP

Holleeder dikatakan bersalah memerintah pembunuhan Willem Endstra yang dipanggil ‘banker for the mob’ di Amsterdam tahun 2004, gangster John Mieremet di Thailand tahun 2005, kontraktor Kees Houtman tahun 2005 serta seseorang partnernya yang bernama Thomas van der Bijl tahun 2006.

Persidangan Holleeder diadakan tertutup dari publik sebab fakta keamanan. Dalam putusannya, panel hakim menyebutkan Holleeder ‘memiliki sikap tidak memiliki moral serta acuh tidak acuh pada hidup serta mati’.

“Kekerasannya sudah membuat kerabat dekatnya mempunyai keberanian untuk memberi kesaksian waktu mereka pun tidak lihat ada jalan keluar. Pengadilan sampai pada rangkuman jika ada bahaya besar berulangnya tindak kriminil sadis serta oleh karenanya, hukuman penjara seumur hidup paling patut,” tegas panel hakim.

Atas vonis itu, Holleeder mengatakan akan ajukan banding. Ia bersikukuh menyanggah semua tuduhan yang dijeratkan terhadapnya.

Sebelum masalah ini, Holleeder sudah pernah diamankan serta diadili seringkali. Tahun 1987, ia bersama dengan Van Hout divonis 11 tahun penjara atas masalah penculikan Heineken. Kedua-duanya bebas sesudah mendekam lima tahun di penjara serta manfaatkan uang tebusan dari tindak penculikan itu — yang disembunyikan dari aparat — untuk membuat kerajaan kriminil yang tergantung pada perdagangan narkoba serta usaha sex di Amsterdam.

Tahun 2007 lalu, Holleeder mendekam lima tahun di penjara atas masalah pemerasan, tetapi ia justru makin populer sesudah bebas.