Bung Tomo Pantas Di Teladani

Bung Tomo Pantas Di Teladani – Presiden Jokowi kenakan pakaian ala Bung Tomo waktu bersepeda di acara ‘Bandung Lautan Sepeda’. Buat Jokowi, semangat perjuangan di waktu Bung Tomo pantas diteladani.

“Semangat untuk bangun negara, untuk selalu bangun negara, semangat-semangat pahlawan dahulu ikut sama. Semangat untuk merdeka, sesudah itu semangat untuk bangun negara, semangat untuk memajukan negara, semangat untuk bikin Indonesia maju,” kata Jokowi selesai gowes di kantor Gubernur Jawa Barat ‘Gedung Sate’, Bandung, Sabtu (10/11/2018).

Jokowi memang tidak dengan spesial menyebutkan figur Bung Tomo, walau penampilannya sekarang ini sama dengan figur pembakar semangat momen 10 November 1945 itu. Jokowi ingin menghidupkan situasi semanagat juang waktu itu, hingga ia kenakan pakaian demikian.

Tidak cuma Jokowi, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut memandang semangat patriotisme Bung Tomo wajar diteladani. Ketum Partai Demokrat itu mengemukakan mengenai semangat Bung Tomo di depan beberapa kadernya.

“Apakah yang berlangsung tanggal 10 November tahun 1945 waktu lalu, berlangsung momen yang sangat heroik di Surabaya. Kita ikut masih tetap mempunyai ingatan yang kuat, pidato yang membakar nasionalisme serta patriotisme kita dari Bung Tomo,” kata SBY di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta

Bicara masalah figur Bung Tomo, pasti perihal yang sangat diingat ialah pose dianya saat berpidato dengan lantang. Jarinya menunjuk-nunjuk serta mata yang seakan tidak miliki perasaan takut itu dapat dibuktikan dapat mencegah penjajah yang ingin masuk kembali pada lokasi Republik Indonesia.

Bila pasukan penjajah saat itu telah bersenjata mutakhir pada eranya, Bung Tomo rupanya pilih corong menjadi senjatanya. Rumah di Jalan Mawar 10, Surabaya, jadi salah satunya saksi bisu kegiatan Bung Tomo membakar semangat massa Surabaya melalui corong radio.

Bung Tomo itu figur pemberani. Waktu tahu Belanda akan masuk Indonesia, beliau selekasnya hadir ke anak-anak serta keluarganya, katakan jika aksi Belanda tidak dapat dilewatkan, sebab kemerdekaan telah diproklamasikan. Berarti, Indonesia telah merdeka. Bung Tomo lantas mendatangi beberapa orang tua di pemerintahan untuk konsultasi,” papar istri Bung Tomo, Sulistina Sutomo saat interviu dengan pada Januari 2016.

Sulistina waktu itu telah berusia 90 tahun. Semangat juang mendiang suaminya masih tetap lekat dalam ingatannya, walau Sulistina telah tidak se-fit beberapa tahun awal mulanya untuk menceritakan.

“Oleh mereka, Bung Tomo di tanya, “Ingin gunakan apakah jika menantang. Kita bertemu dengan musuh pemenang Perang Dunia II. Kita tidak miliki apa-apa untuk menantang.” Akan tetapi Bung Tomo tidak kecil hati. Walau tidak bersenjata mutakhir seperti musuhnya, Bung Tomo tidak mudah menyerah. Beliau miliki inspirasi untuk kobarkan semangat beberapa pemuda lewat pidato. Bung Tomo diizinkan gubernur serta diberi corong, walau sebenarnya Belanda waktu itu telah masuk serta nembak-nembak,” kata Sulistina.

Sutomo atau Bung Tomo lahir pada tahun 1920 di Surabaya. Jurnalistik ialah bagian yang dia tekuni menjadi jalan perjuangannya.

Hingga kemudian Bung Tomo masih pilih pidato dari satu tempat ke lain tempat daripada jadi jenderal. Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin sempat menawari Bung Tomo, ingin jadi jenderal atau pilih pidato. Bung Tomo pilih jadi seseorang orator serta berpidato dimana saja,” papar Sulistina.

Bukan masalah gampang untuk dapat berpidato lantang di waktu menjaga kemerdekaan. Butuh keberanian tinggi, sebab salah-salah bisa-bisa terkena permasalahan.

“Prinsip Bung Tomo, kesewenang-wenangan tidak dapat didiamkan. Lewat cara apapun, suatu yang tidak benar mesti dilawan. Walau tidak mempunyai senjata, beliau terasa harus tetap lakukan suatu. Tidak bisa diam serta membiarkan,” papar Sulistina.

Sekarang Bung Tomo mendapatkan pujian oleh dua Presiden Republik Indonesia. Tetapi siapa kira, Bung Tomo sempat menuntut Presiden pertama RI Sukarno berkaitan kebebasan wartawan dan ditahan oleh Presiden ke-2 RI Soeharto sebab dipandang lakukan perihal subversif.